Header Ads Widget

Header Ads

Design Thinking dan Cloud Computing : Strategi Kreatif Studio Desain Grafis

Membicarakan dinamika desain grafis, baik itu sebagai disiplin ilmu, aktivitas kreatif, ataupun karya sebagai luaran dari aktivitas kreatif (produk), tentu tidak bisa dilepaskan dari dinamika teknologi. Bentuk-bentuk desain grafis yang lahir dan berkembang pada suatu masa, baik dalam aspek medium ataupun gaya (style), kerap dibentuk oleh teknologi yang juga lahir dan berkembang pada suatu masa. Namun dalam realitasnya, teknologi tidak hanya turut membentuk medium ataupun gaya, tetapi juga pada ranah metodologi desain dan manajemen desain.  Termasuk dalam hal ini teknologi cloud computing, yang memiliki hubungan komplementer dengan praktik desain grafis. Cloud computing sangat berguna baik secara konseptual – teoretik, strategis dan juga praktis bagi design thinking dan manajemen proyek. Lalu bagaimana teknologi cloud computing ini dimaknai dalam konteks praktik desain grafis? Mari kita simak uraian berikut ini.

Daftar Isi


Dinamika Teknologi dan Desain Grafis^

Penemuan mesin cetak di sekitar paruh pertama abad ke-15 oleh penemu berkebangsaan Jerman Johannes Gutenberg, mendorong lahirnya lusinan typeface dengan beragam peruntukan serta melahirkan profesi baru (di masa itu): typesetter. Demikian pula, Temuan ini semakin memapankan kertas sebagai medium dalam beragam publikasi dan dokumentasi. Semenjak diperkenalkan oleh Nicéphore Niépce dan partnernya Louis Daguerre di paruh pertama abad ke-19, praktik pembuatan gambar dengan teknik perekaman cahaya secara kimiawi – atau – teknologi fotografi, pada akhirnya merubah cara pandang terhadap seni. Pada akhirnya, fotografi turut mendorong modernisme seni di Eropa dan Amerika. Puncaknya, di abad ke-20, terjadi perubahan besar dalam dunia jurnalistik; dan tentu saja – melahirkan ragam gaya desain grafis seperti : Constructivism; Futurism; International Style; Dadaism; dan Subculture Style yang sedikit banyak mengandalkan teknik photomontage atau kolase.

Teknologi digital yang turut membentuk ragam gaya desain di abad ke-21.  Photo by NordWood Themes on Unsplash. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License

Setelah ditemukannya komputer, dan berlanjut pada lazimnya penggunaan personal computer (PC) dalam beragam keperluan di akhir abad ke-20, dunia mengalami percepatan teknologi digital. Dengan demikian – fotografi digital sebagai kelanjutan fotografi modern, turut mempengaruhi bentuk dan gaya desain grafis. Dalam sekejap, digital imaging menjadi realitas baru dalam desain grafis. Tidak hanya itu, teknologi digital juga mendominasi teknik proses kreatif dalam mencipta karya desain grafis. Di akhir abad ke-20 itu pula - hingga saat ini, sebagaimana yang dikatakan sejarawan desain Martin Sperka; secara gradual terjadi peralihan dari media tradisional menuju media baru.[1] Media tradisional adalah media berbasis analog atau cetak (televisi, radio, majalah, surat kabar, dsb.); sedangkan media baru adalah media berbasis layar (screen based media), seperti website, media sosial, interactive media, games, apps, user interface dan lain sebagainya yang tentu saja terhubung dengan jaringan (internet) dan tersimpan dalam “cloud”.

Tentu saja, di balik apa yang tampak di layar, melibatkan sebuah sistem yang disebut cloud computing; yakni pengiriman layanan komputasi melalui internet yang terdiri dari server, storage, database, jaringan, software, atau bahkan Artificial Intelligence (AI). Hal ini merupakan upaya efisiensi waktu, sumber daya, dan nilai ekonomi. Oleh karena itu, demi kecepatan akses dan efisiensi storage, citra digital haruslah memiliki file size yang rendah. Kita dapat melihat bagaimana internet dan cloud computing mendorong lahirnya style yang tergolong “minimalis”, seperti diantaranya : Flat-Muted Color Pallete Style; Simple Data Visualization; Geometric Shapes; Flat Icons and Illustrations; Social Media Slide Decks Layout; dan lain sebagainya.[2] Kabarnya, beberapa style tersebut akan menjadi trend di tahun 2021. Teknologi cloud computing tidak hanya mempengaruhi bentuk medium dan style desain grafis, namun juga metodologi dan manajemen desain dalam proses kreatif. Lalu apa sebenarnya teknologi cloud computing itu?

Cloud Computing : Teknologi Masa Depan^

Pada dasarnya, “cloud” merupakan metafora dari jaringan atau internet. Hal ini menjelaskan bahwa cloud computing merupakan metafora dari sekelompok elemen-elemen jaringan sebagai sebuah layanan yang tidak perlu dikelola secara aktif oleh pengguna (user), melainkan dikelola oleh penyedia. Semacam pusat data (data centre) yang dapat diakses oleh banyak pengguna sekaligus. Pendeknya, sebagaimana yang dilansir oleh IDCloudHost Indonesia; yakni sebagai proses pengolahan sumber daya komputasi melalui internet untuk menjalankan program melalui komputer yang terkoneksi satu sama lain secara simultan.[3] Disadari ataupun tidak, banyak dari kita sebetulnya telah menggunakan teknologi ini dalam keseharian, semisal ; beragam layanan e-mail (Gmail, Yahoo mail, dsb.), Google Drive, Dropbox, Adobe Cloud, dan bahkan platform manajemen proyek dan bisnis seperti Slack, serta Learning Management System (LMS) seperti Schoology atau Edmodo.

Prinsipnya, cloud computing mengandalkan jaringan internet sebagai “server” dalam mengelola data. Ketika seorang pengguna melakukan login ke sebuah sistem yang terhubung internet, maka ia mendapatkan akses atas data, pun juga menjalankan suatu program – tanpa perlu mengakses data dan menginstal program dalam harddisk drive internal dalam perangkat miliknya. Hal ini semudah kita memahami; mengakses dokumen dan mengerjakannya secara bersama-sama dengan pengguna lain secara simultan melalui aplikasi Google Document pada Google Drive, atau mengumpulkan data peserta suatu pelatihan melalui Google Form, merubahnya menjadi sertifikat pada Google Slide, dan mengirimkannya secara otomatis ke setiap e-mail peserta dengan aplikasi Autocrat. Dalam kasus tersebut, tidak ada satupun aplikasi/program yang terinstal dalam HDD internal perangkat kita – pun – data dokumen juga tersimpan cloud storage milik Google. Dalam hal ini Google bertindak sebagai penyedia layanan cloud computing, yang menyediakan server, cloud storage, jaringan, dan juga software. Kita hanya tinggal mengakses itu semua melalui browser.

Beberapa model cloud computing. Gambar oleh Sam Johnston/Wikimedia Common. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

Gambaran di atas merupakan salah satu contoh penggunaan teknologi cloud computing dalam model yang pertama, yakni public cloud. Pada model tersebut, siapapun dapat menggunakan layanan ini, dan kebanyakan bersifat tidak berbayar (dalam batas-batas tertentu). Untuk itu kita harus benar-benar memilih penyedia layanan yang kredibel demi keamanan data kita. Kedua adalah private cloud, yakni model cloud hosting yang digunakan dalam lingkup satu organisasi atau perusahaan saja. Tentu saja, private cloud ini lebih unggul dalam hal kepemilikan yang memang didedikasikan untuk keperluan dan kebutuhan satu entitas bisnis, perusahaan, atau organisasi.

Di samping itu kelebihan utama private cloud terletak pada : 1) Keamanan, kemudahan dan kepatuhan akan kontrol, oleh karena berisi data perusahaan yang sensitif; 2) Kustomisasi penuh, yang dapat dikonfigurasi secara penuh oleh organisasi/perusahaan; dan 3) Fleksibel dalam integrasi hybrid, yang ketika dibutuhkan sumber daya tambahan, dapat diintegrasikan dengan public cloud tanpa perlu memasang server tambahan. Dengan menggunakan jaringan yang eksklusif, private cloud dapat terdiri dari hardware yang di-hosting di fasilitas milik organisasi, atau di-hosting di fasilitas penyedia layanan. Salah satu cloud provider Indonesia yang menyediakan layanan private cloud terbaik adalah IDCloudHost. IDCloudHost menyediakan server full cloud yang dapat ditingkatkan seiring dengan pertumbuhan server perusahaan, dengan dukungan control panel yang user friendly, praktis, dan fleksibel serta didukung dengan harga yang terjangkau dengan bantuan tim teknis yang berpengalaman.[4]

Cloud computing mengandalkan jaringan internet sebagai “server” dalam mengelola data. Business vector created by fullvector - www.freepik.com. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License 

Selain public cloud dan private cloud, model ketiga dalam cloud hosting adalah community cloud yang diperuntukkan bagi komunitas, dan model keempat yakni hybrid cloud; yang merupakan gabungan dari private cloud dan public cloud. Penggunaan cloud computing dalam beragam jenis bisnis tentunya mampu membawa beragam manfaat. Bahkan bagi UMKM sekalipun. Dengan teknologi cloud, kita dapat mengakses dan bekerja dengan data dan aplikasi dari mana saja, dan kapan saja (sejauh terhubung dengan internet). Di samping itu, penggunaan cloud computing juga mendorong interaksi yang lebih efektif dan efisien di lingkungan kerja. Sinkronisasi dan kontrol antar proyek menjadi lebih mudah oleh karena data yang terkontrol dengan baik. Lalu bagaimana implementasi cloud computing dalam kinerja studio/firma desain grafis? Tentu saja teknologi cloud memiliki relasi komplementer dengan new design method, creative thinking, dan juga project management.

Peran Strategis dan Praktis Cloud Computing dalam Design Thinking^

Teknologi tidak hanya mempengaruhi bentuk medium dan style desain grafis, namun juga berpengaruh terhadap metodologi dan manajemen desain. Sebagaimana bentuk dan gaya desain yang mengalami evolusi dari zaman ke zaman, metodologi desain juga mengalami evolusi. Pertama, di zaman lampau kita mengenal craftmanship sebagai sebuah metodologi desain vernakular; yakni ketika “desainer” menciptakan produk dengan menggunakan alat-alat sederhana, mengutamakan keterampilan tangan, dan bersifat industri rumahan. Dalam metode ini, desainer melakukan semua peran, mulai perancang, perencana, pembuat, dan penjual. Kedua, metode draughtmanship – di mana desainer mulai merancang dengan gambar (design by drawing) dengan menggunakan skala tertentu dan dilengkapi dengan model, pola, maket/prototype. Metode yang mulai memungkinkan pembagian kerja ini mulai berkembang di masa Renaissance. Ketiga, new design method, yakni metode yang membuat jelas isi pikiran desainer, dan menelaah segala hal yang mendasari keputusan desain. Metode ini mulai berkembang sejak tahun 1960-an. Dalam paradigma new design method, proses kreatif diurai menjadi banyak komponen, memiliki prosedur yang jelas, stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil desain menjadi lebih luas (owner, operator, user, dll), dan desainer tidak lagi selalu individual, melainkan juga kelompok. Artinya, proses desain telah menggunakan paradigma manajemen proyek; yang melihat “design as project”.

Evolusi ini tentu tidak terjadi begitu saja, ia didorong oleh semakin kompleksnya kebudayaan dan kehidupan manusia, serta tentu saja, teknologi. Desain pada akhirnya dilihat sebagai “problem solving” atas beragam permasalahan manusia yang semakin kompleks itu. Desain, kini dimaknai sebagai gugusan pengetahuan dan keahlian dalam meneliti dan mengembangkan suatu produk inovatif dan kompetitif, dengan memanfaatkan pendekatan strategis tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang berorientasi masa depan, berdasarkan spesifikasi, rencana, parameter, dan biaya tertentu, dan dengan mempertimbangkan batasan sosial, ekonomi dan kebudayaan di dalam prosesnya. Artinya, desainer kini tak hanya “making design” atau “creating design”, melainkan “developing design”. Inilah yang dalam paradigma ilmiah disebut dengan “design as research and development”, atau secara populer disebut sebagai “design thinking”. Mengenai ini, pembaca dapat mempelajari lebih jauh melalui video webinar bertajuk "Critical & Creative Thinking on Design Thinking Process" dalam IDCH Talk Active oleh UI/UX Lead Designer IDCloudHost; Ronni Hidayat di bawah ini.

Design thinking, secara umum dipahami sebagai serangkaian proses kognitif, strategis, dan praktis yang dengan itu konsep desain akan dikembangkan lebih jauh. Design thinking, baik sebagai teori maupun proses, merupakan upaya pemecahan masalah yang berpusat pada pengguna (user centered), memahami kebutuhan pengguna, dan menghasilkan solusi efektif untuk memenuhi suatu kebutuhan.[5] Senada dengan itu, IDCloudHost Indonesia melansir bahwa design thinking adalah salah satu metode baru dalam proses desain, dengan menyelesaikan masalah yang berfokus pada pengguna. Secara umum prosesnya terdiri dari : 1) Discover; yakni menemukan masalah; 2) Empathize, yakni berempati kepada pengguna; 3) Define, yakni mendefinisikan masalah yang dihadapi dengan jelas, mengumpulkan dan menganalisis data; 4) Ideate; yakni merumuskan konsep desain sebagai solusi atas masalah; 5) Prototyping, yakni membuat prototipe atau purwarupa; 6) Evaluating, yakni melakukan uji efektifitas, kelayakan, atau validitas; dan 7) Refine, yakni menyempurnakan kembali prototype berdasarkan hasil evaluasi, atau langsung menuju produk final.

The Design Thinking and Innovation Process. Bagan oleh Vishwakarma University (VU) in Pune, India dan Binghamton University in Binghamton, New York. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License  

Sebuah firma/studio desain grafis yang didalamnya melibatkan beberapa desainer dalam sebuah departemen kreatif, serta beberapa personel lain dengan keahlian tertentu di luar desain, memang sebaiknya mengimplementasikan design thinking, dan melihat tiap pekerjaan dalam pola pikir manajemen proyek. Pemanfaatan cloud computing dalam design thinking akan menjadi sangat berguna baik secara strategis maupun praktis. Sebagai seorang desainer grafis senior (art director) misalnya, dalam menemukan substansi masalah, kita bisa menggunakan cloud storage untuk menyimpan hasil-hasil riset yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Hal ini juga termasuk membuat formulir penggalian masalah yang sedianya diisi oleh client. Masalah yang sudah terkumpul kemudian dipetakan untuk menemukan yang paling substansif dalam sebuah sesi diskusi bersama departemen kreatif, tentu saja dengan menggunakan aplikasi mind map di dalam cloud. Dalam proyek desain tersebut, dipergunakan salah satu software manajemen proyek yang terintegrasi dengan cloud, semisal Slack, Rock, atau Trello, sehingga setiap proyek dapat tampak dengan jelas baik timeline, capaian, dokumen, ataupun finansial secara live time. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi seorang project manager, traffic department, ataupun account executive.

Cloud Computing yang "kompatibel" dengan Design Thinking. Photo by UX Indonesia on Unsplash. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (Free with attribution) 

Rekaman pertemuan dengan client secara virtual tentu dapat diakses oleh traffic department, sehingga cukup mudah bagi mereka mengonversinya menjadi design brief. Dengan cloud, design brief ini pula dapat terdistribusi dengan mudah ke setiap desainer grafis, baik oleh art director atau traffic department. Creative director tentu dapat mengontrol sejauh mana capaian pekerjaan yang dilakukan oleh tiap desainer. Penggunaan cloud computing dalam suatu evaluasi prototype juga sangat memudahkan, entah dalam bentuk kuesioner, simulasi digital, ataupun eksperimen. Pada intinya – dalam sudut pandang manajemen proyek – penggunaan cloud computing akan mempermudah mulai dari tahap planning, implementing, directing/controlling, hingga evaluating. Dalam situasi semacam ini, tentu jenis private cloud menjadi model yang paling ideal, karena keamanan, kemudahan, fitur kustomisasi dan juga fleksibilitasnya untuk berintegrasi dengan public cloud ketika proyek desain mensyaratkan stakeholder yang lebih luas. Tentu saja, penyedia layanan cloud hosting sebagai rekan kerja firma desain menjadi penentu kinerja dan kredibilitas di mata stakeholder. IDCloudHost Indonesia sebagai cloud provider Indonesia menyediakan server full cloud yang dapat ditingkatkan seiring dengan pertumbuhan server perusahaan. Dengan dukungan control panel yang user friendly, praktis, dan fleksibel, serta didukung dengan harga yang terjangkau, dan bantuan tim teknis yang berpengalaman

Demikianlah bagaimana teknologi cloud computing memiliki hubungan komplementer dengan design thinking dan manajemen proyek. Cloud computing sangat berguna baik secara konseptual – teoretik, strategis dan juga praktis. Dari sini dapat dipahami bagaimana teknologi telah mempengaruhi dan turut membentuk metodologi dan manajemen desain grafis – dan kita sama-sama melihat bagaimana teknologi cloud computing menjadi begitu “kompatibel” dengan design thinking. Teknologi ini – terutama private cloud – dipercaya menjadi solusi masa depan. Seturut Forbes, 77% industri di Amerika telah menggunakan infrastruktur cloud untuk aplikasi bisnis dan komputasi. Dari sinilah anggapan bahwa teknologi cloud computing menjadi investasi teknologi masa depan bagi studio/firma desain grafis tidaklah keliru. 

Bagaimana dengan bisnis kita? tentu saja private cloud dapat menjadi pilihan rasional untuk Sukses Go Digital dengan Teknologi Cloud Computing.

Banner Blog Competiotion 320x160

Creative Commons License

Desain Grafis, Graphic Design, Desainer Grafis, Graphic Designer, Design, Cloud Computing, Cloud, Private Cloud, Design Method, Metodologi Desain, Design Thinking, Creative Thinking, Komputasi Awan, Public Cloud, Community Cloud, Hybrid Cloud, Go Digital, IDCloudHost, Studio Desain Grafis, Studio Desain, Graphic Design Studio, Manajemen Proyek, Project Management

-----------------------------------

Catatan Kaki 

[1]Lihat Sperka, M., dan Stolar, A., (2005), Graphic Design in The Age of Interactive Media, dalam 3rd International Symposium of Interactive Media Design (ISIMD 2005), 5-7 Januari 2005. Link , diakses pada tanggal 20 April 2021.
[2]McReady, R. (2020), 7 Graphic Design Trends That Will Dominate 2021 (Infographic), dalam Venngage, www.venngage.com, Link , diakses pada tanggal 20 April 2021
[3]IDCloudHost Indonesia, (2019). Mengenal Apa itu Cloud Computing : Definisi, Fungsi, dan Cara Kerja. dalam blog.idcloudhost.com, Link , diakses pada 22 April 2021.
[4]IDCloudHost Indonesia, (2019). Mengenal Layanan Manage Private Cloud Indonesia dari IDCloudHost. Dalam blog.idcloudhost.com, Link , diakses pada 22 April 2021.
[5]Stevens, E. (2021), What Is Design Thinking? A Comprehensive Beginner's Guide, dalam CareerFoundry.com, Link , diakses pada tanggal 23 April 2021.

Posting Komentar

22 Komentar

  1. Literasi seperti ini pengetahuan baru bagi saya sebagai pembaca, ada banyak hal bermanfaat.

    BalasHapus
  2. Menurut saya ini rumit sekali sih. Computing, cloud dan sebagainya. Apalah saya yang cuma bisa langsung pakai saja. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul kak..sesederhana kita gunakan Google Drive atau Dropbox, artikel ini sekadar mengulik apa yang ada dibaliknya. terima kasih kunjungan dan komennya..sukses selalu..

      Hapus
  3. Asa lier abdi mah..haruhh..nggk nyampe otaknya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santai kang...sambil ngopi n roko-nya didobelin..hehehe

      Hapus
  4. Desain thinking ini mirip-mirip dengan prinsip penelitian pengembangan ya? Hmm... makasih inspirasinya nan adiluhung ini. Semoga saya jadi tambah bermartabat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak, dalam bentuk yg lebih cair dan kasual..sukur-sukur bisa adiluhung kayak gamelan dan wayang..wkwkwk

      Hapus
  5. Apakah barang ini masih tersedia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ready kak..silakan BeeJelly-nya, ada potongan kalo mau grosir..kuku bima juga ada.

      Hapus
  6. Balasan
    1. Siap kang, trima ksh sudah berkunjung..👍

      Hapus
  7. Kelihatannya mudahin bgt buat perusahaan, gk tahu lebih jauh info gini😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap sis. Tp klo sis nya freelancer jg bisa banget buat ngatur kerjaan personal..👌

      Hapus
  8. Dgn kemajuan teknolohibskrng sdah tambah prktis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tul bang, sesimpel kita pake Gdrive atau Dropbox...👍, makasi kunjungannya bang..

      Hapus
  9. Nice info��

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Oh no. it's kind of deep!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Johny Deep or Knee Deep?

      Hapus
  12. Tapi sebenernya masalah utama muncul, yakni masalah literasi dan edukasi bagi mereka yang sudah memulai namun umur cenderung sepuh. Kebanyakan dari mereka susah banget buat mencerna hal hal berbau IT. Jadi sedih.

    BalasHapus